Bismillahirrahmanirrahiim

Tiga : Menjatuhkan vonis terhadap individu atau pihak tertentu sebagai orang-orang kafir (Paham Takfîry).

Masalah menjatuhkan vonis kafir adalah suatu hal yang sangat riskan sekali. Betapa banyak orang yang tergelincir dan sesat pemahamannya karena masalah ini. Tidak terhitung berbagai fitnah yang terjadi, darah suci tidak bersalah yang tertumpah, dan sejumlah prinsip agama yang ternodai karena masalah ini. Bahkan bahayanya juga telah mengganggu para ulama dan wali-wali Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 28 Rabiul Awal 1430 H / 25-03-2009   

Akar Kesesatan Ketiga : KERANCUAN DALAM POKOK MANHAJ

Sebenarnya dalam dua dasar pemikiran Imam Samudra di atas, demikian pula yang akan datang, ada bentuk kerancuan dalam hal Manhaj. Namun disini ada beberapa kerancuan Manhaj yang selayaknya dikhususkan pembahasan terhadapnya. Yaitu kerancuan penulis berkaitan dengan makna Salafiyah.

Termasuk hal yang dibanggakan oleh Imam Samudra adalah pengakuannya bahwa dirinya berada di atas jalan Salaf-Shalih dan seluruh aksi Bom Bali yang dia lakukan bersama teman-temannya sangat dia yakini selaras dengan metode Salaf-Shalih. [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 26 Rabiul Awal 1430 H / 23-03-2009   

Dua : Menjelekkan dan menjauhkan umat dari para ulama yang hakiki.

Telah berlalu sedikit penjelasan bahwa sangatlah besar bahaya yang mengancam umat apabila mereka jauh dari para ulamanya. Karena itu salah satu misi penting dari manhaj terselubung ini adalah menjatuhkan para ulama dan menjauhkan umat dari mereka sehingga dengan leluasa umat ini akan digiring kepada kerusakan dan target-target tertentu yang diinginkan oleh para tokoh manhaj terselubung ini. [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 24 Rabiul Awal 1430 H / 21-03-2009   

Dasar-dasar pokok manhaj terselubung tersebut dibangun di atas beberapa perkara[1],

Satu : Membuat umat benci kepada para penguasa.

Pelaksanaan dan ciri penganut manhaj terselubung ini pada setiap masa adalah menampakkan kejelekan-kejelekan para penguasa dan membeberkannya di mimbar-mimbar, diskusi, pertemuan dan di berbagai majelis, membuat umat benci kepada para penguasanya dengan berbagai pensifatan “Pengkhianat Bangsa dan Negara”, “Menjual Bangsa dan Negara untuk kepentingan asing”, [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 21 Rabiul Awal 1430 H / 18-03-2009   

Akar Kesesatan Kedua : PELECEHAN TERHADAP PARA  ‘ULAMA

Termasuk ciri khas orang-orang Khawarij dan salah satu sumber kesesatan sejumlah kelompok yang pernah tercatat dalam sejarah Al-Firaq adalah melecehkan para ulama dan menganggap diri-diri mereka lebih tinggi dari para ulama. Karena itu tidak pernah tercatat dalam sejarah terdapat seorang ulama dalam pengertian hakiki di kalangan Khawarij. Awal kali mereka keluar dan memberontak terhadap penguasa adalah di masa ‘Ustman bin ‘Affân radhiyallâhu ‘anhu kemudian di masa ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallâhu ‘anhu, dan tidak ada seorang shahabat pun yang tergabung dalam barisan Khawarij. [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 17 Rabiul Awal 1430 H / 13-03-2009   

Nilai-nilai Islam yang agung nan suci sangat tidak sejalan dengan perbuatan zholim, khianat dan melanggar janji. Karena kezholiman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan khianat adalah tidak memenuhi amanah, dan melanggar janji adalah akhlak yang tercela menurut kesepakatan orang-orang yang berakal. [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 16 Rabiul Awal 1430 H / 12-03-2009   

Sebab Keenam : Hizbiyah terselubung.

Hizbiyah yang menjamur pada kelompok, yayasan, organisasi, golongan dan jama’ah-jama’ah yang menisbatkan dirinya kepada Islam adalah penyakit dan malapetaka yang sangat besar bagi siapa saja yang terjerembab ke dalamnya. [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 15 Rabiul Awal 1430 H / 11-03-2009   

Sebab Keempat : Jauh dari ulama.

Sesungguhnya para ulama mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di tengah umat dan telah dipuji dan dijelaskan keutamaan mereka dalam berbagai nash ayat maupun hadits. Karena itu kita diperintah untuk merujuk kepada mereka dalam segala urusan. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman, [Selanjutnya]

(0) Comments    Read More    Update : 12 Rabiul Awal 1430 H / 09-03-2009